Minggu, 18 Juli 2010

tak tau ini apa

Pendidikan dalam bahasa Yunani berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan – Red), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Dari pengertian-pengertian dan analisis yang ada maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam beserta lingkungannya.
Dalam pendidikan terdapat dua hal penting yaitu aspek kognitif (berpikir) dan aspek afektif (merasa). Sebagai ilustrasi, saat kita mempelajari sesuatu maka di dalamnya tidak saja proses berpikir yang ambil bagian tapi juga ada unsur-unsur yang berkaitan dengan perasaan seperti semangat, suka dan lain-lain. Substansi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah membebaskan manusia dan menurut Drikarya adalah memanusiakan manusia. Ini menunjukan bahwa para pakar pun menilai bahwa pendidikan tidak hanya sekedar memperhatikan aspek kognitif saja tapi cakupannya harus lebih luas.
Bagaimana dengan pendidikan di Indonesia?
Apakah pendidikan di Indonesia memperhatikan permasalahan detail seperti ini? Inilah salah satu kesalahan terbesar metode pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif (merasa), sehingga kita hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sudah 45 tahun Indonesia merdeka, dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Tapi tak kuasa mengubah nasib bangsa ini. Maka pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan yang kita kembangkan hingga saat ini.
Kesalahan kedua, sistem pendidikan yang top-down atau dari atas kebawah. Freire menyebutnya dengan banking-system. Dalam artian peserta didik dianggap sebagai safe-deposit-box dimana guru mentransfer bahan ajar kepada peserta didik. Dan sewaktu-waktu jika itu diperlukan maka akan diambil dan dipergunakan. Jadi peserta didik hanya menampung apa yang disampaikan guru tanpa mencoba untuk berpikir lebih jauh tentang apa yang diterimanya, atau minimal terjadi proses seleksi kritis tentang bahan ajar yang ia terima. Dalam istilah bahasa arab pendidikan seperti ini dikatakan sebagai taqlid. Artinya menerima atau mengikuti apa saja yang dikatakan oleh para pendidik. Dan ini tidak sejalan dengan substansi pendidikan yang membebaskan manusia (Ki Hajar Dewantara).
Kesalahan ketiga, Saat ini terjadi penyempitan makna dari pendidikan itu sendiri ketika istilah-istilah industri mulai meracuni istilah istilah pendidikan. Dpendidikan identik dengan belajar. gw mengartikan pendidikan sama dengan
pembelajaran, yaitu proses pendewasaan diri.
dalam bahasa inggris, belajar bisa
dikatakan “study” dan “learn”. study lebih digunakan dalam
belajar yang bersifat tekstual, sedangkan learn lebih bersifat praktis
(berdasarkan pengalaman).
study cenderung membawa kita ke pola pikir penulis
buku, sedangkan learn cenderung mengasah pikiran kita dengan pola pikir kita
sendiri dalam melihat fenomena dan mengatasi suatu masalah.
nah, kalo
pengalaman gw selama smp dan sma sih, gw ngerasa lebih banyak disodorin cara
belajar “study”, yaitu banyak hafalan dari teks tertentu dan kurang
banget praktikumnya. padahal, dalam pendewasaan diri, seharusnya lebih diimbangi
dengan kegiatan praktek.
praktek ini bisa dilakukan, contoh: dengan memberikan
sebuah fenomena atau masalah dan membiarkan siswa mencari sendiri solusinya
dengan guru hanya men…i tandai dengan bergantinya manusia menjadi Sumber Daya Manusia (SDM)

ketuban

YANG TERJADI KETIKA KETUBAN PECAH DINI
17 Maret 2008, 1:44 pm
Diarsipkan di bawah: Kesehatan (健康) | Tag: bayi, hamil, ketuban, lahir, operasi caesar, pecah
Ketuban pecah terjadi alami pada proses persalinan. Bagaimana jika pecahnya lebih dini? Bisakah gejalanya dikenali?
“Dokter, saya mengeluarkan cairan dari vagina dan keluar begitu saja seperti mengompol,” keluh Ibu Nababan yang tengah hamil dengan nada khawatir.
Apa yang dialami Ibu Nababan bisa disebut sebagai ketuban pecah dini. Tidak mulas, tanpa sakit, tapi ada semacam cairan yang merembes keluar dari vagina. Keluarnya cairan tersebut tidak terasa dan tidak dapat ditahan oleh ibu hamil.
Menurut Dr. S.B. Wahyudi, Sp.OG, dari RS Husada, yang dimaksud ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan. Robeknya kantung ketuban sebelum waktu melahirkan tiba memang sulit diketahui gejalanya. Yang pasti, banyak akibat yang ditimbulkan dari pecahnya ketuban dini ini.
FUNGSI
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus.
Pada kehamilan, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari “lingkungannya”. “Air ketuban pun membuat janin bisa bergerak dengan bebas ke segala arah, tidak ada kompresi terhadap janin sehingga dapat berkembang dengan baik,” ujar Wahyudi.
Kecuali itu, air ketuban dapat menyebarkan tekanan bila terjadi trauma, juga sebagai penyangga terhadap panas dan dingin. Pada saat proses persalinan, air ketuban memberikan kekuatan mengejan sehingga serviks dapat membuka, membersihkan jalan lahir karena mempunyai kemampuan sebagai desinfektan, dan sebagai pelicin saat kelahiran.
Dokter pun bisa mendeteksi janin melalui cairan ketuban ini. Dari mulai mendeteksi jenis kelamin, kematangan paru-paru janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan), susunan genetiknya, dan sebagainya. Cara mendeteksinya dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu.
Jumlah cairan ketuban ini beragam. “Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter,” jelas lulusan FK Universitas Diponegoro, Semarang. Bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Jika dilihat lebih teliti terdapat lanugo (rambut halus janin) dan verniks caseosa(sel-sel epitel dan lemak pada kulit bayi).
Janin meminum cairan ketuban ini, sehingga terjadi refleks menelan dan bernapas sejak dini. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam. “Jika janin tidak menelan air ketuban, maka volumenya bisa banyak,” jelas Wahyudi.
Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya produksi air ketuban berlebihan (hidramnion). Hal tersebut terjadi karena adanya cacat pada bayi, misalnya kepala yang tidak terbentuk. Penambahan air ketuban ini bisa mendadak dalam beberapa hari atau secara perlahan-lahan. “Terkadang pada kehamilan yang post mature (lebih dari usia kehamilan) akan terjadi pengurangan air ketuban, karena terjadi resorbsi yang lebih banyak pada bayi,” jelas Wahyudi.
Pemeriksaan air ketuban dilakukan berbarengan dengan persalinan, merasakan kontraksi pertamanya dalam waktu 12 jam, sebagian dalam waktu 24 jam tapi ada juga yang lebih lama sampai tibanya persalinan.
Ciri-cirinya antara lain terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas, berbeda dengan bau air seni. Alirannya tidak deras keluar, kecuali bila ibu hamil dalam posisi berbaring. Karena ketika ibu hamil berjalan atau duduk, kepala janin cenderung menutupi muara rahim seperti sumbat botol. Selain itu, juga karena tidak ada kontraksi yang mendorong keluarnya cairan tersebut. Untuk lebih memastikan bahwa itu adalah air ketuban, dilakukan dengan tes ferning atau tes nitrazine.
Pada umumnya, menurut Wahyudi, ada dua macam kemungkinan ketuban pecah dini, yaitu premature rupture of membrane dan preterm rupture of membrane. Gejalanya sama, yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. “Baru setelah itu akan terasa sakit karena adanya kemungkinan kontraksi,” jelas Wahyudi.
Robeknya kantung ketuban biasanya terjadi seusai trauma, misalnya ibu hamil terjatuh atau terbentur di bagian perut. Ketuban pecah dini juga bisa terjadi karena mulut rahim yang lemah sehingga tidak bisa menahan kehamilan.
Bisa juga karena ketegangan rahim yang berlebihan, seperti kehamilan ganda atau hidramnion, kelainan letak janin seperti sungsang atau melintang, atau kelainan bawaan dari selaput ketuban. Bisa pula karena infeksi yang kemudian menimbulkan proses biomekanik pada selaput ketuban sehingga memudahkan ketuban pecah.
Namun, adakalanya hanya terjadi kebocoran kantung ketuban. Yang terjadi, cairan ketuban merembes sedikit demi sedikit, tanpa disadari oleh si ibu hamil. Akibatnya, cairan ini makin berkurang jumlahnya. Bahkan, menjadi habis. Si ibu baru merasakan perih jika si janin bergerak.
AKIBAT YANG TIMBUL
Pemeriksaan dokter akan menentukan apakah janin masih “aman” untuk tetap tinggal di dalam rahim atau sebaliknya. Umumnya setelah ketuban pecah, dokter akan memantau kondisi ibu dan janin. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih, berarti keadaan janin masih baik. “Ibu hamil bisa mempertahankan kehamilannya,” jelas Wahyudi.
Langkah selanjutnya dilakukan terapi. Jika kehamilan kurang dari 38 minggu akan dilakukan metode konservatif. Ibu hamil diwajibkan istirahat, dibantu dengan pemberian obat-obatan yang tidak menimbulkan kontraksi, biasanya melalui infus.
Bila si bayi belum cukup besar, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mematangkan paru-parunya agar jika terpaksa dilahirkan, janin sudah siap hidup di luar rahim ibunya. Kecuali itu, ibu pun akan diberi antibiotika untuk mencegah infeksi.
Umumnya cara ini berhasil dilakukan. Melalui bed rest, air ketuban dicegah keluar dalam jumlah lebih banyak. Sementara itu, lapisan kantung yang sebelumnya terbuka pun akan menutup kembali. Cairan ketuban akan dibentuk kembali oleh amnion, sehingga janin bisa tumbuh lebih matang lagi.
Sebaliknya, bila jumlah air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan berisiko asfiksia. Perlu diketahui, air ketuban berwarna putih jernih. Jika air ketuban berwarna hijau, bisa membahayakan janin. Hal semacam itu yang biasanya membuat persalinan dipercepat, baik persalinan alami lewat vagina maupun operasi Caesar. Karena jika kehamilan diteruskan justru akan membahayakan keduanya, ibu dan janin. Bukan tidak mungkin justru berakhir dengan kematian.
Melihat akibatnya yang tidak ringan, segeralah ke dokter jika dicurigai ketuban pecah. Begitu pula jika mengeluarkan cairan yang tidak diketahui penyebabnya. Apa pun juga, bantuan medis amat diperlukan dalam kondisi seperti itu.
Dedeh Kurniasih. Foto : Rohedi (nakita)
Menghadapi Ketuban Pecah Dini
Pemeriksaan Rutin
Lakukan pemeriksaan paling sedikit 3 kali dalam satu kehamilan. Pemeriksaan 16 minggu, 28 minggu, dan 32 minggu. Dengan pemeriksaan yang baik, tumbuh kembang janin dalam rahim dapat terdeteksi. Begitu pun banyak sedikitnya air ketuban dapat dideteksi.
Segera ke Dokter
Jika terdapat tetesan atau aliran cairan dari vagina, segera periksa ke dokter.
Hindari Infeksi
Usahakan daerah vagina selalu bersih untuk menghindari infeksi. Bersihkan selalu daerah ini dari arah depan ke belakang. Jangan sekali-kali melakukan dengan gerakan sebaliknya.
“Puasa”
Untuk sementara waktu, hindari melakukan hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah.
Istirahat
Istirahatlah sesuai anjuran dokter. Jangan merasa diri wanita super dengan melakukan semua kegiatan. Ingatlah, setiap kehamilan selalu berbeda. Jika Anda melihat teman lain tetap “perkasa” saat hamil, Anda tidak harus menjadi demikian.
Menjaga Kebersihan
Bila cairan ketuban merembes, gunakanlah pembalut yang dapat menyerap air ketuban. Pada minggu-minggu terakhir kehamilan sebaiknya gunakan pembalut tipis pada celana dalam agar membuat Anda merasa bersih dan segar. Sebab, pada umumnya pengeluaran cairan dari vagina akan lebih banyak. Penggunaan pembalut ini pun berguna untuk memudahkan Anda membedakan cairan ketuban dengan cairan lain dari bau serta warnanya. (from : yuwielueninet.wordpress.com)


Kok Air Ketubannya Hijau?
Posted on Nov 13, 2009
Tak jarang ada bumil yang beranggapan bahwa mengonsumsi daun pepaya atau minum jamu saat hamil dapat mengakibatkan air ketuban berwarna hijau.

Padahal, menurut dr Ridwan SpOG dari Kemang Medical Care Women & Children, warna air ketuban tidak ada hubungannya dengan makanan atau juga minuman yang diasup oleh ibu hamil.

Lalu kenapa berwarna hijau? Menurut dr Ridwan, air ketuban umumnya tidak berwarna/transparan/bening hingga pink tawar. Sedangkan ketuban yang berwarna hijau disebut dengan meconium. Ini berasal dari produk sisa pencernaan bayi (BAB bayi) yang berada dalam ususnya. Berwarna hijau karena memang pewarnaan hijau yang berasal dari hasil pencernaan si bayi yang disebabkan oleh empedu bayi.

"Meconium ini seharusnya tidak keluar secara langsung tetapi diserap sedikit demi sedikit oleh tubuh bayi. Baru setelah bayi lahir, keluar sebagai BAB. Jadi meconium ini seharusnya tidak dikeluarkan di dalam kandungan. Artinya selama dalam kandungan normalnya bayi tidak akan BAB," paparnya.

Mengapa bayi sampai mengeluarkan BAB-nya padahal masih dalam kandungan? "Bayi selama dalam kandungan belum mulai bernafas, dia mendapat suplai oksigen dari ibunya yang dibawa oleh darah melalui tali pusat. Selain oksigen, tali pusat juga membawa makanan. Jadi, segala macam kebutuhan bayi dialirkan melalui tali pusat," tambah dokter ramah ini.

Untuk itulah, lanjutnya, segala bentuk gangguan yang terjadi pada tali pusat yang mengganggu aliran darah akan berakibat fatal bagi bayi. Gangguan tersebut misalnya ada lilitan tali pusat atau tali pusat terjepit oleh bagian tubuh bayi maka hal ini mengakibatkan bayi akan kekurangan oksigen dan makanan. Bila bayi kekurangan oksigen maka sphincter ani (anusnya) akan terbuka atau otot yang mengatur penutupan anus akan melemah dan terbuka, sehingga terjadi meconium yang akan mengotori air ketuban. Karena meconium berwarna hijau maka otomatis air ketuban pun akan hijau.

Menurutnya lagi, meconium juga dapat terjadi bila bayi sudah lewat bulan. Bayi yang lewat waktu (bulan) fungsi saluran cernanya sudah matang sehingga mengeluarkan meconium. Karena itu penting bagi ibu hamil melakukan USG secara teratur. USG secara teratur dapat mengetahui usia kehamilan secara tepat. Pada kehamilan yang lewat waktu, sebanyak 30 persennya terjadi ketuban berwarna kehijauan.

Sebabkan Kematian

Kondisi paling bahaya adalah saat melahirkan, tambah dr Ridwan, jika air ketuban berwarna hijau apalagi hijau kental dikhawatirkan bayi dapat terkena sindrom aspirasi meconium (Meconium Aspiration Syndrome/MAS), kondisi di mana meconium terhisap oleh bayi pada saat lahir dan masuk ke paru-paru. Jika ini terjadi, maka harus cepat dibersihkan mulut dan hidungnya agar kondisi tersebut tidak terjadi. MAS ini cukup berbahaya karena dapat meningkatkan angka kematian pada bayi baru lahir.

Sumber : lifestyle.okezone

Ketuban Pecah Dini

Definisi
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.

Gambar 1. Ketuban Pecah
Penyebab
Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD :
Inkompetensi serviks (leher rahim)
Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
Riwayat KPD sebelumya
Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
Kehamilan kembar
Trauma
Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis

Gambar 2. Inkompetensi leher Rahim
Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban yang terdapat di dalam rahim.
Komplikasi KPD
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

Gambar 3. Keluarnya Tali Pusar
Penanganan Ketuban Pecah di Rumah
Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang keluar
Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan berhubungan seksual atau mandi berendam
Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari infeksi dari dubur
Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri
Terapi
Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.
Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.

Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik. Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.
Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak.
Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir).
Pencegahan
Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan
Pecahnya Ketuban
Cooking Fri, 14 Feb 2003 09:18:00 WIB
Ketuban yang berisi cairan atau amnion bisa pecah pada saat persalinan berlangsung, atau bahkan sebelum persalinan terjadi. Ibu hamil tidak bisa mengontrol pecahnya ketuban seperti mengontrol buang air kecil. Jika pecahnya ketuban terjadi sebelum persalinan, umumnya dokter akan langsung meminta ibu ke RS untuk menangani persalinan. Apalagi jika pecahnya ketuban telah disertai kontraksi 10 menit sekali. Berikut hasil wawancara dengan Dr. Dedy Arman Saidi, SpOG dari RSIA Hermina Bekasi

Seperti apa air ketuban? Aroma pada seprei atau sebagian pakaian Anda mungkin bisa memberi petunjuk. Jika berbau agak manis dan tidak seperti bau amoniak, maka mungkin cairan tersebut cairan amnion atau air ketuban. Petunjuk lain, pada Anda mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara.

Jika ketuban anda sudah pecah, segeralah pergi ke rumah sakit, meski saat itu Anda belum merasakan kontraksi sedikit pun. Sebagian wanita yang ketubannya pecah sebelum persalinan biasanya akan mengalami kontraksi pertama dalam waktu 12 - 24 jam, bahkan lebih lama dari itu. Karena dengan berjalannya waktu resiko infeksi pada bayi dan ibu melalui kantung ketuban yang terbuka mulai mengancam, sebaiknya ibu segera ditangani dokter.

Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.

Menangani Ketuban Pecah Sebelum Tiba di Rumah Sakit
Bila Anda mengalami tetesan, rembesan atau aliran cairan dari vagina, hubungi dokter atau bidan, atau orang yang akan mengantar ke rumah sakit.

Sementara itu, usahakan daerah vagina sebersih mungkin untuk mencegah infeksi. Jangan mandi berendam atau melakukan hubungan seksual.

Gunakan pembalut wanita ( tetapi jangan tampon) untuk menyerap air yang keluar.

Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri

Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang.

Jika air ketuban berwarna coklat kehijauan atau gelap, jangan panik. Pewarnaan ini mungkin berasal dari saluran pencernaan bayi Anda. Seharusnya mekonium (tinja janin) dikeluarkan setelah bayi lahir sebagai kotorannya yang pertama. Tapi kadang jika janin stres di dalam rahim atau janin "sudah matang" dia melepaskan mekonium sebelum lahir ke dalam cairan ketuban. Pewarnaan mekonium bukan pertanda pasti adanya masalah pada janin, meski demikian laporkan hal ini pada dokter Anda.


Ketuban Pecah Dini, Tali Umbilikal "Turun"

Pecahnya ketuban terlalu dini lebih sering terjadi bila bayi sungsang atau prematur. Bila bagian janin yang akan keluar terlebih dahulu belum masuk ke ronggal pinggul, tali umbilikal bisa "jatuh" dan turun ke leher rahim, atau bahkan ke dalam vagina bersamaan dengan menyemburnya air ketuban. Bila Anda dapat melihat seuntai tali umbilikal ini pada muara vagina Anda, atau Anda merasa ada "sesuatu" di dalam vagina, ubahlah posisi tubuh Anda ke posisis merangkak (lutut kaki dan siku tangan menyentuh lantai). Umbilikal yang turun akan mudah terjepit oleh bagian tubuh janin. Bila umbilikal terjepit, aliran oksigen yang penting bagi janin bisa berkurang bahkan berhenti. Posisi merangkak akan mengurangi tekanan pada tali.

Bila tali menonjol ke luar, tahanlah tali dengan hati-hati (jangan didorong, ditekan atau dimasukkan dengan paksa) menggunakan pembalut, handuk bersih, atau popok bayi yang dibasahi dengan air hangat. Minta bantuan seseorang untuk membawa Anda ke RS atau hubungi Gawat Darurat. Di RS kondisi ini akan diatasi dengan bantalan penyangga tali, atau memasukan kembali tali menggunakan tampon steril khusus, sementara Anda dipersiapkan untuk operasi cesar. (BOD/While You're Expecting

KETUBAN PECAH DINI
Pendahuluan
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan terjadinya infeksi dan persalinan prematur. Keadaan tersebut menyebabkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas perinatal dan maternal (1,2,3). Infeksi korioamnionitis, sampai sepsis merupakan bagian terpenting bagi kelangsungan hidup pasien. Dilaporkan kejadian korioamnionitis pada KPD antara 4,2-10,5 %. Sedangkan masalah dalam persalinan prematur adanya gawat napas serta besarnya biaya perawatan bayi prematur itu sendiri. (1,2,3,4,5) Dilaporkan 56,1% kematian bayi prematur disebabkan oleh Hyaline Membran Disease.(5)
Pecahnya ketuban biasanya akan diikuti dengan mulainya proses persalinan.(1,4) Nelson (1994) melaporkan lebih dari 50% yang mampu bertahan sampai hari ketujuh setelah pecahnya ketuban.(4) Kepustakaan lain melaporkan pada persalinan prematur 30% didahului oleh KPD. (5)
Definisi
KPD adalah robeknya selaput ketuban atau amnioreksis pada setiap saat sebelum mulainya persalinan.(1,2,3,4,5,6)
Sedangkan institusi lain mengatakan KPD adalah pecahnya ketuban setiap saat sebelum pembukaan mencapai 3-4 cm (RS Hasan Sadikin Bandung).(1)
Faal Air Ketuban
volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan adalah 1000-1500 cc
ciri-ciri kimiawi :
Air ketuban berwarna putih kekeruhan, berbau khas amis dan berasa manis. Reaksinya agak alkalis atau netral, berat jenis 1,008. Komposisinya terdiri atas 98 % air, sisanya albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel-sel epitel, rambut lanugo, verniks kaseosa dan garam organik. Kadar protein kira-kira 2,6 gr% perliter terutama sebagai albumin.
Dijumpai lecitin spingomyelin dalam air ketuban sangat berguna untuk mengetahui apakah janin sudah mempunyai paru-paru yang matang. Sebab peningkatan kadar lecitin pertanda bahwa permukaan paru-paru diliputi zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan bernapas. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak sungsang akan kita jumpai warna ketuban keruh kehijau-hijauan, karena telah bercampur dengan mekonium.
fungsi air ketuban :
untuk proteksi janin
untuk mencegah perlekatan janin dengan amnion
agar janin dapat bergerak dengan bebas
regulasi terhadap panas dan perubahan suhu
mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau diminum yang kemudian dikeluarkan melalui kencing janin
meratakan tekanan intra uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah
Perdarahan air ketuban dengan darah itu cukup lancar dan perputarannya cepat, kira-kira 350-500 cc
asal air ketuban
kencing janin (fetal urine)
transudasi dari darah ibu
sekresi dari epite amnion
asal campuran (mixed origin)
Insidens
Insidens KPD sangat bervariasi dikarenakan definisinya yang berbeda-beda, dilaporkan berkisar antara 2,7 -17% (2)
Etiologi
Penyebab KPD belum diketahui secara pasti, (1,2,4,6) tetapi disebutkan ada beberapa faktor predisposisi antara lain :
Faktor selaput ketuban (1,2,5,6,7)
Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi akibat kurangnya elastisitas selaput tersebut atau karena meningkatnya tekanan uterus atau karena keduanya.
Faktor infeksi (4)
Infeksi sebagai faktor yang berperan terhadap pecahnya selaput ketuban, termasuk infeksi vagina dan serviks.
Faktor perubahan tekanan intra uterus yang mendadak (1,6)
Hoffman melaporkan dari kasus KPD yang diteliti 60% mengalami perubahan tekanan intra uterus yang mendadak sebelum pecahnya selaput ketuban.
Faktor yang berhubungan dengan obstetri (1,2,5,6,7)
KPD meningkat pada kasus-kasus multigravida, perdarahan antepartum, riwayat KPD sebelumnya, CPD/panggul sempit, riwayat tindakan pada serviks.
Faktor sosioekonomi yang rendah (1,4,6,7)
Berhubungan dengan defisiensi gizi dari tembaga dan asam askorbat ( vitamin C ) serta hygiene yang jelek.
Faktor lain, seperti merokok, keturunan, antagonis golongan darah (1,6,7)
Diagnosa (3,4,6)
Anamnesa
Pasien mengeluarkan air dari kemaluan
Pemeriksaan Klinis
Dengan melihat langsung keluar dari kemaluan
Dengan inspekulo, melihat air ketuban mengalir keluar dari kanalis servikalis ( bila perlu lakukan tekanan ringan pada fundus uteri atau ibu disuruh batuk atau mengedan)
Dengan periksa dalam,tidak teraba adanya selaput ketuban. Untuk pasien yang tidak dalam persalinan, apakah kurang bulan atau cukup bulan, tangan pemeriksa tidak boleh dimasukkan ke dalam vagina karena terdapat resiko masuknya
infeksi dan periode masa laten yang biasanya lama dari waktu pemeriksaan hingga kelahiran.
Perasat valsava atau sedikit tekanan fundus dapat mengeluarkan cairan dari liang serviks, yang merupakan diagnostik KPD.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan lanugo
Pemeriksaan sel-sel janin
Pemeriksaan pH air ketuban
Vagina mempunyai keasaman 4,5 – 5,5 sedangkan air ketuban mempunyai pH 7,0 – 7,5 sehingga dengan pecahnya selaput ketuban pH vagina menjadi 6,0 – 8,1.
Tes arborisasi (fern)
Tes lainnya ( Diamin oksidase, fetal fibronektin, alfa fetoprotein)
Penanganan
Penanganan KPD dipengaruhi usia kehamilan, infeksi dan tanda-tanda persalinan (3)
Prosedur penanganan di bagian obgyn FK-USU adalah sebagai berikut (6)
Penderita di rawat di RS, istirahat mutlak dengan bokong ditinggikan dan sedapat mungkin hindari periksa dalam.
Pemberian antibiotik
Monitoring DJJ, observasi tanda-tanda infeksi dan tanda-tanda mulainya persalinan
Pemeriksaan USG untuk konfirmasi diagnostik
Jika ada tanda-tanda korioamnionitis :
skor pelvik >5, dilakukan induksi persalinan tanpa memandang tuanya kehamilan. Jika persalinan belum selesai dalam waktu 6-8 jam sebaiknya dilakukan tindakan operatif.
Skor pelvik <5,>
Berdasarkan usia kehamilan (6)
Viable For Life ( Usia kehamilan ≥ 37 minggu, BB ≥ 2500 gr )
observasi yang baik selama 8-12 jam
lakukan induksi partus bila belum ada tanda iinpartu
letak lintang dan letak sungsang langsung SC
Non Viable For Life ( Usia kehamilan <>
jika maturitas paru belum matang dirawat dan diusahakan agar kehamilan dapat dilanjutkan sampai umur kehamilan 37 minggu
jika maturitas paru sudah matang dilakukan induksi partus setelah observasi 24 jam
bila induksi partus gagal, dilakukan SC
sementara menunggu, diberikan antibiotik, vitamin C dosis tinggi, tokolitik dan plasentotropik
Maturasi paru
National Institut of Health tahun 1994 merekomendasikan pemberian kortikosteroid pada kasus-kasus dengan persalinan prematur yang mengancam, karena dapat menurunkan kejadian gawat napas dan perdarahan intraventrikuler. Pemberian kortikosteroid antenatal pada ibu antara usia kehamilan 28-34 mgg dapat mengurangi resiko sindroma gawat napas 40-60%. Kortikosteroid dapat diberikan berupa 2 dosis betametason 12 mg i.m berjarak 12 jam. Efek perangsangan baru terlihat jika terjadi persalinan sesudah lebih dari 24-48 jam dan sebelum 7 hari sejak pemberian dosis pertama.(6)
Tokolitik
Obat-obat tokolitik ternyata hanya dapat menunda persalinan prematur untuk 24-48 jam saja. Pemberian jangka panjang tidak memberi keuntungan yang jelas pada janin maupun ibu. Walaupun demikian, penundaan sementara dapat dimanfaatkan untuk pemberian kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru. Bila terdapat infeksi biasanya tokolitik tidak akan berhasil. Sedangkan kebanyakan praktisi di Amerika Serikat memilih tidak memberikan terapi tokolitik antara usia kehamilan 34-37 mgg, kecuali bila dijumpai bukti imaturitas paru janin. (4,8)
Akibat KPD pada Ibu dan Janin (5)
Infeksi ( korioamnionitis ) dengan tanda-tanda takikardi, nyeri tekan uterus, suhu > 380 C, air ketuban purulen dan berbau busuk, leukosit > 15.000/mm3
Prolaps tali pusat
Sepsis
Kematian janin karena infeksi dan atau prematuritas yang mengakibatkan sindroma gawat janin.
DAFTAR PUSTAKA
Sarkawi W., Hasil Penelitian KPD di RS Pirngadi Medan, Tesis Bagian Obstetri dan Ginekologi FK USU/RSUPM, 1983
Kappy K.A., Premature Rupture of Membranes in Risk Pregnancy, 2nd ed, W.B. Saunders Cmpany, Philadelphia, 1993, 378-95
Saifuddin A.B., Adriaansz G., Wiknjosastro G.H., KPD, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,2000, 218-20
Cunningham F.G., Mac Donald P.C., Gant N.F., et al, Preterin Birth, William’s Obstetric, 20th ed, Appleteon and Lange, 1997, 797-826
Arias F., Premature Repture Of Membranes, Practical Guide to High Pregnancy, 2nd , Mosby, St. Louis, 1993, 100-13.
Staff Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU, KPD, Pedoman Diagnosis & Terapy Obstetric & Ginekologi FK-USU/RSPM 1993, 52-55
Mochtar R., Sinopsis Obstetri, Edisi I, EGC, Jakarta, 1998, 285-87


KENAPA AIR KETUBAN BISA PECAH
Penjawab 1
ya pasti habis. coz air ketuban itu hanya diproduksi saat hamil. so, setelah kehamilan berakhir, air ketuban akan habis.Klo maw jawaban lengkap, baca buku kebidanan aja.
materi referensi:
buku maternitas
6 bulan lalu
Sign in untuk memberikan suara!
0 Penilaian: Jawaban Bagus
0 Penilaian: Jawaban Buruk
Lapor Penyalahgunaan
Penjawab 2
ya pasti habis. coz air ketuban itu hanya diproduksi saat hamil. so, setelah kehamilan berakhir, air ketuban akan habis.Klo maw jawaban lengkap, baca buku kebidanan aja.
6 bulan lalu
Sign in untuk memberikan suara!
0 Penilaian: Jawaban Bagus
0 Penilaian: Jawaban Buruk
Lapor Penyalahgunaan
Penjawab 3
Air ketuban ada saat adanya kehamilan. Karena Baby mau keluar maka air ketuban juga ikut keluar, krn air ketuban yang melindungi Baby dalam perut.....makanya bisa habis dong...
6 bulan lalu
Sign in untuk memberikan suara!
0 Penilaian: Jawaban Bagus
0 Penilaian: Jawaban Buruk
Lapor Penyalahgunaan
Penjawab 4
Kalau saat kehamilan, air ketuban tidak bisa habis, karena setiap 2-3 jam selalu di produksi kembali oleh tubuh wanita hamil. Walaupun ketika sudah dalam proses melahirkan dan selaput ketuban sudah pecah, air ketuban tetap di produksi. Jadi tidak mungkin air ketuban bisa habis. Dokter memang kadang suka menakut-nakuti jika seorang wanita yang proses melahirkannya lama, si dokter akan bilang nanti air ketubannya habis ... padahal sih ngga akan kok ...
Yang ditakutkan saat selaput ketuban sudah pecah dan proses melahirkan yang lama adalah "meconium" yaitu pup bayi yang pertama. Meconium ini bisa meracuni bayi dan ibu. Tapi bisa dicegah dengan minum antibiotik.
Jadi kalau anda mau melahirkan, baca buku dan informasi yang banyak. Jangan sampai dibohongi dokter ya.
Waktu saya melahirkan, dokternya berkata sesuatu yang saya tahu ngga benar, ya saya bilang aja, "ah, dokter bohong" hehehe ... jelas aja beliau marah, tapi ketika saya buka sumber saya (jurnal kedokteran dan buku yang terpercaya, ya dia ngga bisa bilang apa-apa).
materi referensi:
What to Expect When You're Expecting (GREAT BOOK !!!)
The Pregnancy Book by Dr. Sears and his wife. (EXCELLENT BOOK !!!)
6 bulan lalu
Sign in untuk memberikan suara!
0 Penilaian: Jawaban Bagus
0 Penilaian: Jawaban Buruk
Lapor Penyalahgunaan
Tidak ada jawaban yang tepat bagi Anda?
Kadang-kadang tidak ada jawaban yang tepat. Jika begitu, pilih "Tidak Ada Jawaban Terbaik". Pemilih (Voter) TIDAK mendapatkan poin apa pun untuk memilih Tidak Ada Jawaban Terbaik.
Sign in untuk memberikan suara!
Pertanyaan terbuka di Kesehatan Wanita
apa benar dengan meminum air nanas dapat membuat keguguran ?
2 bulan yang lalu saya melakukan USG dan hasilnya ternyata saya aneksitis , bahaya kah apa efek negatifnya ?
pembalut herbal, baik gak sih buat kesehatan ?
bagaimana solusi pemakaian pembalut yang baik bagi kesehatan?
Pertanyaan terselesaikan di Kesehatan Wanita
Gimana caranya biar alatvital selalu oke!?
Tentang sex wanita tlg dijawab pleaseee!!!!!?
kenpa tiap mens itu perut sakit banget??ada ndk obatnya?
saya berumur 13 tahun, hingga saat ini payudara saya belum tumbuh saya juga belum menstruasi. bagaimana ini?

Pendarahan pada ibu hamil
Tanggal 30 Ogos 1999, saya bertolak pulang dari Sg Koyan menuju Kota Bharu. Suami mahu saya melahirkan anak di Kelantan. Jangkaan bersalin ialah 4 September 1999. Pada masa itu saya telah mula merasa sakit perut sedikit tanda akan bersalin. Namun lazimnya, anak sulung lambat juga akan keluar. Kedudukan kepala bayi yang masih tinggi dan sakit yang jarang-jarang memberi lesen untuk kami pulang walaupun dilation sudah ada. Kalau tidak silap baru 1 cm waktu itu. Ia memakan masa untuk berganjak ke 2 cm dan 3 cm.
Di pertengahan jalan, kami singgah di Cuchuh Puteri, Kuala Krai kerana ada program bersama masyarakat di situ. Suami saya turut serta memberi khidmat percuma kepada penduduk tempatan. Sakit masih berulang jarang-jarang sedangkan saya bersama orang kampung.
Seusai program, kami singgah di rumah seorang sahabat di kuarters Hospital Kuala Krai. Sebelum bertolak pulang, suami memeriksa lagi, tiba-tiba pendarahan berlaku. Saya solat seperti biasa kerana ia dikira darah fasad (rosak) atau istihadah. Darah itu cair dan berwarna merah terang. Ia bukan keluar berterusan. Bagi sesiapa yang mengalami perkara yang sama ketika hamil, hendaklah solat walaupun sudah ada tanda-tanda akan bersalin.
Bagaimana pula dengan wanita yang mengalami pendarahan di tengah-tengah kehamilan? Apakah hukum darah tersebut? Jom lihat serba sedikit huraian mengenai hal ehwal wanita bersalin.
Jenis Pendarahan Semasa Hamil
Darah yang keluar semasa hamil dikira sebagai istihadah. Darah bercampur lendir ketika proses hendak bersalin juga dikira istihadah atau darah fasad (rosak).
Nifas ialah darah yang keluar dari rahim selepas melahirkan anak. Bagi mazhab Syafie, dikira darah nifas jika bersalin anak yang hidup, mati atau keguguran sama ada bersalin cara biasa atau pembedahan.

Nifas dari Sudut Saintifik
Ibu-ibu sudah tentu pernah mengalami rasa sakit seperti hendak bersalin sedangkan bayi sudah pun keluar. Apakah sebenarnya yang berlaku di dalam rahim kita?
Pada peringkat akhir proses kelahiran bayi, otot-otot rahim mengecut untuk menolak keluar keseluruhan badan bayi. Akhirnya kelahiran sempurna berlaku. Pengecutan seterusnya berlaku menyebabkan tertanggalnya uri dari dinding rahim. Sejurus berlakunya kelahiran bayi, pengecutan otot-otot rahim menyebabkan kontraksi berlaku pada otot-otot salur darah arteri lalu menekan salur-salur darah di uri yang akhirnya menyebabkan uri terpisah dari dinding rahim (desidua). Aliran darah pula berlaku hasil dari hakisan pada bekas tempat lekatan uri di dinding rahim (desidua) yang dikenali sebagai nifas. Ciri darah dan tempoh pendarahan adalah bergantung kepada saiz uri tersebut.
Dari sudut saintifik, nifas berbeza dengan darah haid yang berasal dari lapisan endometrium. Secara jelas, darah nifas terhasil dari darah yang mengalir keluar disebabkan oleh bercerainya uri dari rahim selepas melahirkan anak. Ia selaras dengan pandangan fuqaha’ mengenai definisi nifas.

Hukum Pendarahan Semasa Hamil dan Air Ketuban
Pendarahan Semasa Hamil (tiada tanda hendak bersalin)
Perdarahan yang berlaku semasa hamil tanpa sebarang tanda untuk bersalin dalam Mazhab Syafii dihukumkan sebagai haid jika mematuhi kriteria tempoh haid. Jika bersalahan dengan kriteria tersebut maka darah itu dihukumkan sebagai istihadah.
Sebahagian ulama pula menetapkan darah yang keluar ketika hamil bukanlah haid dan dihukumkan sebagai istihadah kerana haid tidak berlaku ketika hamil. Pendapat ini bertepatan dengan kajian saintifik iaitu proses haid tidak akan berlaku kerana telah berlakunya persenyawaan dan kehamilan. Pendarahan yang berlaku ketika hamil biasanya disebabkan oleh kemungkinan wanita itu menghadapi masalah keguguran pada peringkat awal kandungan. Selain itu, wanita hamil mungkin mengalami masalah uri seperti uri pecah atau uri berada di bawah pada pertengahan dan akhir mengandung.
Darah Bercampur Lendir
Biasa juga para ibu mengalami darah bercampur lendir keluar dari rahim sebelum melahirkan. Ia merupakan salah satu tanda awal seseorang ibu akan bersalin. Darah ini keluar disebabkan terbukanya saluran ‘cerviks’ atau pangkal rahim dan juga pemisahan kantung tembuni bayi dari dinding rahim bahagian bawah.
Darah ini akan bercampur dengan lendir yang juga dihasilkan oleh kelenjar di bahagian pangkal rahim. Darah inilah yang dikatakan sebagai darah fasad (rosak) dari aspek fikah. Oleh kerana ia bukan lagi darah nifas, maka wanita yang mengalaminya wajib menunaikan solat seperti biasa. Dengan perkataan lain, kewajipan solat belum terangkat dari wanita tersebut.
Air Ketuban
Keluarnya air ketuban juga merupakan tanda awal proses kelahiran bayi. Air ini keluar dari sarung tembuni bayi yang pecah ketika proses kontraksi rahim. Pada asalnya, air ketuban bertindak sebagai kusyen yang melindungi bayi. Subhanallah. Maha suci Allah yang memelihara janin dalam kandungan.

فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ

Lalu Kami jadikan air (air mani/zigot) itu pada tempat menetap yang kukuh (yakni rahim).
Surah al-Mursalat 77:21

Demikian hebat kurniaan Allah. Masihkah kita sanggup mendustakan nikmatNya dan membalasnya dengan maksiat?

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah hendak kamu dustakan?
Ayat 13 Surah al-Rahman.
Apabila ia mengalir keluar, air ketuban membantu melicinkan proses kelahiran. Allahuakbar! Maha agung Engkau ya Allah yang tidak menjadikan sesuatu itu dengan sia-sia.
Hukum air ketuban adalah najis. Maka wanita itu perlu bersuci terlebih dahulu untuk menghilangkan najis tersebut dan berwuduk seperti biasa sebelum solat jika air ketubannya sudah kering.
Cara Menunaikan Solat Dalam Keadaan Darah dan Air Ketuban Masih Keluar
Cara bersuci ialah bersihkan terlebih dahulu darah atau air ketuban dari faraj. Kemudian pakai tuala wanita, mengambil wuduk dan terus solat. Jika darah keluar dengan banyak diiringi rasa sakit berterusan, diharuskan solat jamak.
Sambung travelog…
Tiba di Machang, suami sudah letih untuk membawa kereta. Saya mengambil alih memandu. Tiba-tiba saya perlahankan kereta dan berhenti di sisi jalan. Suami berkata, ”Kenapa berhenti?”
”Perut rasa sakit sedikit”. Hilang rasa sakit, saya sambung perjalanan hingga ke Kota Bharu. Alhamdulillah.
Tanggal 31 Ogos 1999, Ma memasak pulut durian kegemaran saya. Saya rasa sakit makin kuat. Suami memeriksa lagi. Bukaan 4cm. Tiba masanya pergi ke hospital. Oleh kerana menjadi pantang larang orang tua-tua tidak boleh makan pulut sepanjang tempoh berpantang. Saya jamah juga pulut durian. Sambil makan, saya menahan sakit. Ma menggalakkan saya makan sampai puas. Alhamdulillah, ’sporting’ betul. Ma berkata, ”Itu sakit main-main je… Belum sakit betul-betul”. Saya kurang faham maksud ’sakit betul-betul’ yang Ma sebut. Maklumlah ini kali pertama saya akan bersalin.
Kira-kira jam 12 tengahari, saya tiba di Hospital Kota Bharu dan terus di bawa ke bilik bersalin. Betullah, sebaik saya berada di atas katil, sakit yang lebih kuat mula terasa. Ya Allah… beginikah sakitnya melahirkan seorang anak. Melalui jam seterusnya, baru saya mengerti apa yang Ma maksudkan ’sakit betul-betul’. Tidak terperi rasanya dan rasa takut yang amat sangat.
Mengenangkan rasa sakit bersalin, hati lebih menghayati hikmah disuruh taat pada kedua ibubapa. Rasa sedih pula menyelinap mengenangkan anak-anak yang menyia-nyiakan hidup mereka dengan pelbagai perkara yang merosakkan diri sendiri. Tidakkah mereka mahu bersyukur kepada Allah yang mengeluarkan mereka dari rahim ibu?
Mata membilang detik jam di dinding. Bilakah saat ini akan berakhir? Tiada yang mampu memberi kekuatan selain Allah. Saya takut… di saat menulis ini pun, saya merasa takut mengenangkan sakit bersalin. Azan Zohor melewati waktu, saya mengingatkan suami untuk solat Zohor dahulu. Namun dia mahu menunggu sehingga saya selamat melahirkan. Suami mengagak dia akan sempat solat Zohor nanti.
Kira-kira jam 3.08 petang, saya selamat melahirkan cahaya mata pertama kami berdua. Alhamdulillah. Rasa takut dan sakit sekelip mata bertukar gembira melihat bayi di sisi. Masya Allah! Sakit di dunia masih ada penawarnya. Sakit dan azab di akhirat, tiada lagi yang dapat menyelamatkan.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Oleh itu, maka (tetapkanlah kepercayaanmu) bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan.
Ayat 5 Surah al-Syarh.
Wajar sekali dikatakan wanita yang bersalin ibarat bayi yang baru dilahirkan. Dosa-dosa berguguran seiring lahirnya bayi dalam kandungan. Bukankah kesakitan itu penghapus dosa?
Solat Zohor yang saya terluput itu telah saya qada selepas habis nifas. Inilah kaedah penyelesaian bagi wanita yang pernah meninggalkan solat semasa sakit hendak bersalin. Namun, setelah mengetahui hukum dan kaedahnya seperti yang saya tulis dalam entry sebelum ini, wajib menunaikan solat dalam waktunya menurut kemampuan. Jika mampu solat duduk, maka hendaklah solat duduk. Jika tidak mampu, solat berbaring.
Sebaik selesai mengazankan anak sulung kami, suami bergegas menunaikan solat.
Ada peristiwa lucu pada hari tersebut yang mana Ibrahim Ali pernah menyebut untuk Solat Hajat selepas Solat Asar petang 31 Ogos itu. Hajat apa yang mahu diminta tidak pula saya ingat. Sebenarnya tiada solat sunat selepas Solat Asar. Inilah penyakit orang jahil, mahu berjuang namun ilmu asas tentang Islam sendiri pun tidak diketahui.
Nota: Sebahagian isi mengenai Darah Semasa Hamil, Nifas dan Air Ketuban adalah dari buku Fikah Perubatan yang disediakan oleh Dr Rosediani Muhamad, Pakar Perubatan Keluarga, USMKK.

proposal dhini

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga berencana (KB) adalah Program Nasional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan, kesejahteraan Bapak, Ibu, Anak Khususnya dalam keluarga, serta bangsa pada umumnya. Salah satunya dengan cara membatasi dan menjarangkan kehamilan (http:// yogya.bkkbn.go.id).11
Di seluruh dunia jumlah peserta KB Metode Operasi Pria atau MOP/Vasektomi kurang lebih 43 juta dari jumlah pasangan usia subur, sedangkan di Amerika 13 % dari jumlah Pasangan Usia Subur. Di Indonesia peserta KB Metode Operasi Pria MOP/Vasektomi 1% dari total pengguna kontrasepsi (http://www.geocities.com/klinikfamilia/vasektomi 1.html, 2009).
Pengembangan keluarga berencana yang secara resmi sejak tahun 2000 telah memberikan dampak penurunan tingkat vertilitas total dan cukup mengembirakan, namun partisivasi pria dalam ber-KB masih sangat rendah yaitu 0,4 % di Indonesia sedang di Malaysia 16,8 %. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan suami dan hak-hak kesehatan reproduksi serta kesehatan dan keadilan (Pro-health, 2008).
Peran suami dalam Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi yang berkisar 1,1 %, jauh dari target tahun 2001 sebesar 2,4 % karena itu perlu upaya sangat keras dari pelaksana program untuk mencapai target partisipasi pria menjadi 8 % diakhir tahun 2004, dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. Hal itu mengemukakan dalam evaluasi pelaksanaan, peningkatan partisipasi pria dalam program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi pekan ini. Peran suami dalam KB antara lain sebagai peserta Keluarga Berencana dan mendukung pasangan menggunakan kontrasepsi. Sedang dalam kesehatan reproduksi, antara lain membantu mempertahankan kesehatan ibu hamil, merencanakan persalinan aman oleh tenaga medis, menghindari keterlambatan dalam mencari pertolongan medis, membantu perawatan ibu dan bayi setelah persalinan, menjadi ayah yang bertanggung jawab, mencegah penularan seksual, menghindari kekerasan terhadap perempuan, serta tidak bisa gender dalam menafsirkan kaidah agama. Pengembangan metode kontrasepsi Metode Operasi Pria masih jauh tertinggal karena adanya hambatan-hambatan yang ditemukan antara lain kesulitan memperoleh informasi tentang alat kotrasepsi, hambatan medis yang berupa ketersediaan alat maupun ketersediaan tenaga kesehatan, dan agama (Pro-health, 2008).
Sementara jumlah akseptor KB berdasarkan alat kontrasepsi di Provinsi Riau tahun 2009 sebanyak 93.627 orang (70,66%) dari target 223.155 orang. Akseptor baru metode kontrasepsi MOP sebanyak 6.353 orang (45,3%) dan tidak kontrasepsi MOP sebanyak 91.571 orang (66,50%) (http:// yogya.bkkbn.go.id).
Pasangan Usia Subur di Kabupaten Indragiri Hilir tahun 2009 adalah 139.919 orang dan peserta pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi MOP berjumlah 605 orang ( Profil Dinas Pemberdayaan Perempuan Kab. Inhil, 2009 )
Sementara pasangan usia subur di wilayah puskesmas Tembilahan Kota adalah 7.781 jiwa dan jumlah pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi MOP sebanyak 3 orang, Di wilayah Puskesmas Gajah Mada jumlah pasangan usia subur berjumlah 6.123 jiwa dan jumlah pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi MOP berjumlah 1 orang, sedangkan pasangan usia subur di wilayah Puskesmas Tembilahan Hulu adalah 6.426 jiwa dan pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi MOP sama sekali tidak ada. Dari semua jumlah pasangan usia subur yang tinggal di wilayah kerja puskesmas tembilahan kota, wilayah kerja puskesmas Gajah mada dan wilayah kerja puskesmas tembilahan hulu maka jumlah data pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi MOP/Vasektomi yang paling rendah adalah wilayah kerja puskesmas tembilahan hulu (0%) ( Profil Dinas Pemberdayaan Perempuan Kab. Inhil, 2009 ).
Rendahnya partisipasi suami dalam ber-Keluarga Berencana dapat memberikan dampak negatif bagi kaum wanita karena dalam kesehatan reproduksi tidak hanya kaum wanita saja yang berperan aktif. Salah satu penyebabnya dari rendahnya pemakaian kontrasepsi mantap MOP/Vasektomi ini adalah tingakat pengetahuan, sikap, agama, suku bangsa, usia perkawinan, dan jumlah anak dalam keluarga.
Melihat fenomena tersebut peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmauan pria dalam ber-KB (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Kabupaten Inhil Tahun 2010.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmauan pria dalam ber-KB (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu.


1.3 Tujuan
1.3.1 TujuanUmum
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmauan pria dalam ber-KB (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Tahun 2010.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya cakupan pria ber-KB (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu.
1.3.2.2 Diketahui hubungan pengetahuan pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu.
1.3.2.3Diketahui hubungan sikap pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu.
1.3.2.4 Diketahui hubungan jumlah anak dalam keluarga dengan ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Tembilahan Hulu.
1.3.2.5Diketahui hubungan Umur pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Tembilahan Hulu.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti Lain
Untuk sebagai bahan perbandingan dan masukan dalam melakukan penelitian selanjutnya yang ada hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmauan pria dalam ber-KB Metode Operasi Pria (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu.


1.4.2 Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pelaksanaan program dalam memotivasi pria dalam ber-KB (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Tahun 2010.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan sebagai tambahan bacaan di perpustakaan Akademi Kebidanan Yayasan Akademi Kebidanan Husada Gemilang Tembilahan.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dalam kurun waktu 1 bulan yaitu pada bulan juni tahun 2010. Bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmauan pria dalam ber-KB (MOP) di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu. Penelitian akan dilakukan dengan menggunakan data primer dan sekunder dengan menyebarkan kuesioner dan survey yang digunakan secara analitik dengan pendekatan cross sectional.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kontrasepsi MOP
2.1.1 Faktor yang mempengaruhi ketidakmauan pria dalam ber-KB MOP
Tingkat pengetahuan, sikap suami terhadap KB, agama atau kepercayaan, Suku Bangsa, Usia perkawinan, Jumlah anak masih hidup dapat menyebabkan ketidakmauan pria untuk ikut berpatisipasi dalam menjalankan program keluarga berencana khususnya penggunaan Metode Operasi Pria (MOP), seperti telah dikemukakan oleh para ahli dibawah ini :

2.1.2 Pengetahuan
Seseorang akan dapat menterjemahkan suatu objek dengan baik apabila dapat merespon suatu rangsangan melalui panca indera dengan baik yang kemudian diterjamahkan dengan penalaran sebagai bahan pengalaman sehingga mereka menjadi tahu. Ketidak mauan pria untuk berperan aktif dalam ber-KB MOP disebabkan karena keterbatasan pengetahuan. Hal ini seperti yang telah di definisikan oleh para ahli dibawah ini :
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Taufik (2007), pengetahuan merupakan penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan lain sebagainya).


1) Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan.
(1). Umur
Singgih (2004), mengemukakan bahwa makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun.
(2).Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru.
(3).Lingkungan
Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya (Nasution, 2002).
(4). Suku Bangsa
Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya dengan orang lain, karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh suatu pengetahuan.
(5). Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (2003), pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri.
2.1.3 Sikap
Sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak (Widiatun, 2002). Sikap adalah “keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya (Widiatun, 2002).
1) Faktor – faktor yang mempengaruhi sikap
(1). Sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu.
(2). Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada pengalaman orang lain.
(3).Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.
Menurut teori diatas dapat disimpulkan bahwa sikap sangat menentukan tindakan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan berdasarkan sedikit dan banyaknya pengalaman, selain itu situasi juga sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang untuk mau atau tidaknya melakukan tindakan seperti melakukan tindakan seperti melakukan program keluarga berencana Metode Operasi Pria (MOP)
2.1.4 Agama
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Agama).
peneliti menyimpulkan bahwa Agama juga dapat berpengaruh besar terhadap ketidakmauan pria untuk ber-KB karena seseorang yang berpegang pada Fiqih secara teks yang akan mengartikan umur secara harfiah atau melihat berdasarkan umur dan angka bukan berdasarkan kematangan psikologi dan pengetahuan akan melakukan pernikahan pada usia atau umur yang masih muda yang akan membawa dampak negatif terhadap wanita yang pada dasarnya belum siap untuk melahirkan keturunan.
2.1.5 Suku Bangsa
Istilah suku berhubungan dengan masyarakat, berkaitan dengan manusia yang hidup dalam masyarakat, atau membicarakan mengenai masyarakat sebagai pranata, bahkan berkaitan juga dengan minat atau kepedulian suku, kesenangan suku, manfaat suku, kebahagiaan suku, tugas suku, dan lain-lain. Sedangkan Bangsa / Kebangsaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2002).
Menurut teori diatas bahwa sudah menjadi kodrar alam bahwa manusia sejak lahir selalu mempunyai kecendrungan untuk hidup bersama dengan orang lain. Hidup bersama dengan orang lain dalam bentuk paling kecil adalah keluarga tentunya akan diawali dengan membentuk paling sedikitnya seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam ikatan pernikahan yang di atur oleh Undang-undang dan aturan-aturan adat. Kesiapan dan kematangan pola berpikir keluarga serta peran masyarakat inilah yang menentukan mau atau tidaknya seorang untuk menjalankan program Keluarga Berencana. Sebagai contoh pola pikir adat yang diberikan secara turun temurun dari para pewaris yang mengatakan banyak anak banyak rezeki, anak akan membawa rezeki sendiri-sendiri, dengan banyak anak berarti memberikan banyak kesempatan anak yang hidup (Widiatun, 2002).
2.1.6 Usia Perkawinan
Usia perkawinan merupakan suatu tahapan perkembangan hubungan suami istri dalam keluarga dari masa transisi awal menikah kemasa berikutnya (Widiatun, 2001).
Dari teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Usia Perkawinan ini dapat mendasari keengganan pria untuk melakukan program keluarga berencana berupa bagi pasangan pemula yang ingin segera mempunyai keturunan atau sebaliknya bagi pasangan yang sudah cukup lama tetapi belum memiliki keturunan mereka akan terus berusaha untuk mendapatkan keturunan sebagai generasi penerusnya, sebagai generasi pewaris dari orang tuanya (Widiatun, 2002).
2.1.7 Jumlah anak dalam keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Dan jumlah anak dalam satu keluarga cukup dengan 3 (tiga) orang anak saja (Dep-Kes RI, 2001).
2.1.8 Umur
Umur adalah makin tua umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses perkembangan mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun (Singgih, 2001).

2.2 Pengertian Kontrasepsi Metode Operasi Pria
Kontrasepsi Metode Operasi Pria adalah Oklusi vas deferens, sehingga menghambat perjalanan spermatozoa dan tidak didapatkan spermatozoa di dalam semen/ejakulat (tidak ada penghantaran spermatozoa dari testis ke penis. (Hanafi, 2004).
Kontrasepsi Metode Operasi Pria adalah Prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vas deferens sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi (Saifuddin, 2003).
Kontrasepsi metode operasi pria adalah Tindakan memotong dan menutup saluran mani (vas deferens) yang menyalurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat produksinya di testis (Mochtar, 2003).
2.2.1 Keuntungan Kontap-Pria :
1) Efektif.
2) Aman, morbilitas rendah dan hampir tidak ada mortalitas.
3) Sederhana.
4) Cepat, hanya memerlukan waktu 5 - 10 menit.
5) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi lokal saja.
6) Biaya rendah.
7) Secara kultural, sangat dianjurkan di negara-negara dimana wanita merasa malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita dan paramedis wanita.
2.2.2 Kerugian Kontap-Pria :
1) Diperlukan suatu tundakan operatif.
2) Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi.
3) Kontap-pria belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa, yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens, dikeluarkan.
Problem psikologis yang berhubungan dengan prilaku seksual mungkin bertambah parah setelah tindakan operatif yang menyangkut sistem reproduksi pria (Hanafi, 2004).
2.2.3 Kegagalan Kontap-Pria
1) Rekanalisasi spontan : Hal ini tidak terjadi pada keadaan bila kedua ujung dibakar
2) Bila yang dipotong bukan vas deferens, misalnya pembuluh darah.
3) Ada lebih dari satu vas deferens (duplikasi vas deferens)
4) Akseptor telah bersetubuh dengan istri sebelum benar-benar steril
(Mochtar, 2003).
2.2.4 Kontra-Indikasi Kontap –Pria :
1) Infeksi kulit lokal, misalnya Scabies.
2) Infeksi traktus genitalia.
3) Kelainan skrotum dan sekitarnya :
(1). Varicocele.
(2). Hydrocele besar.
(3). Filariasis.
(4). Hernia inguinalis.
(5). Orchiopexy.
(6). Luka perut bekas operasi hernia.
(7). Skrotum yang sanga tebal.

4) Penyakit sistemik :
(1) Penyakit-penyakit perdarahan.
(2) Deabetes mellitus.
(3) Penyakit jantung koroner yang baru.
5) Riwayat perkawinan, psikologis atau seksual yang tidak stabil (Hanafi, 2004).
2.2.5 Persiapan Pre-Operatif Kontap-Pria
1) Hanya minim sekali :
(1). Rambut pubis sebaiknya dicukur.
(2) Tindakan dan anti-sepsis daerah skrotum dengan antiseptik (larutan iodine).
2.2.6 Prosedur Kontap-Pria :
Prosedur kontap-pria meliputi beberapa langkah tindakan :
1) Identifikasi dan isolasi vas deferens.
(1). Kedua vasa deferens merupakan struktur paling padat di daerah mid- scrotum, tidak berfungsi (berbeda dengan pembuluh darah).
(2). Kesukaran kadang-kadang terjadi dalam identifikasi dan isolasi vas deferens seperti pada keadaan-keadaan :
Kulit scrotum tebal
Vas deferens yang sangat tipis.
Spermatic cord yang tebal.
Testis yang tidak turun.
Otot cremaster berkontraksi dan menarik testis keatas.
(3). Kedua vas deferens harus di identifikasi sebelum meneruskan prosedur kontap-nya
(4). Dilakukan mobilisasi vas deferens diantara ibu jari dan telunjuk atau memakai klem (doek-klem atau klem lainnya).
(5). Dilakukan penyuntikkan anestesi lokal.
2) Insisi scrotum.
(1). Vas deferens yang telah di immobilisasi di depan skrotum hanya ditutupi oleh otot dartos dan kulit skrotum.
(2). Insisi, horizontal atau vertikal, dapat dilakukan secara :
 Tunggal, digaris tengah (scrotal raphe).
 Dua insisi, satu insisi di atas masing-masing vas deferens.
3). Memisahkan lapisan-lapisan superfisial dari jaringan-jaringan sehingga vas deferens dapat di isolasi.
4). Oklusi vas deferens.
(1). Umumnya dilakukan pemotongan/reseksi suatu segmen dari kedua vas deferens (1 -3 cm), yang harus dilakukan jauh dari epididymis.
(2). Ujung-ujung vasa deferens setelah dipotong dapat ditutup dengan :
 Ligasi
 Dapat dilakukan dengan chromic catgut ( ini yang paling sering dilakukan ).
 Dapat pula dengan benang yang tidak diserap (silk), tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan iritasi jaringan atau granuloma.
 Ligasi tidak boleh dilakukan terlalu kuat sampai memotong vas deferens, karena dapat menyebabkan spermatozoa merembes ke jaringan sekitar dan terjadi granuloma.
5). Penutupan luka insisi.
(1). Dilakukan dengan catgut, yang kelak akan diserap.
(2). Pada insisi 1 cm atau kurang, tidak diperlukan jahitan catgut, cukup ditutup dengan plester saja (Hanafi, 2004).
2.2.7 Perawatan Post-Operatif Kontap-Pria
Perawatan post-operatif kontap-pria juga minim saja :
1) Istirahat 1-2 jam di klinik.
2) Menghindari pekerjaan berat selama 2-3 hari.
3) Kompres dingin/es pada skrotum.
4) Analgetika.
5) Memakai penunjang skrotum (scrotal support) selama 7-8 hari.
6) Luka operasi jangan kena air selama 24 jam.
7) Senggama dapat dilakukan secepat saat pria sudah menghendaki dan tidak merasa terganggu.
8) Dipersilakan berbaring selama 15 menit
9) Amati rasa nyeri dan perdarahan pada luka
10) Pasien dapat dipulangkan bila keadaan pasien dan luka operasi baik.
(Saifuddin, 2003).
2.2.8 Vasektomi Tanpa Pisau (VTP)
Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa takut calon akseptor kontap-pria akan tindakan operasi (yang umumnya dihubungkan dengan pemakaian pisau operasi), dan juga untuk lebih menggalakkan penerimaan/pelaksanaan kontap-pria, di indonesia sekarang telah di perkenalkan dan telah dilaksanakan metode vasektomi tanpa pisau (VTP) (Hanafi, 2004).



2.2.9 Prosedur VTP :
1) Persiapan pre-operatif :
(1). Cukur rambut pubis, untuk lebih menjamin sterilitas.
(2). Tidak perlu puasa sebelumnya.
2) Mencari, mengenal dan fiksasi vas deferens, kemudian dijepit dengan klem khusus yang ujungnya berbentuk tang catut. Lalu disuntikkan anestesi lokal.
3) Dilakukan penusukkan pada garis tengah skrotum dengan alat berujung bengkok dan tajam untuk membuat luka kecil, yang kemudian disebarkan sekitar 0,5 cm. Akan terlihat vas deferens yang liat dan keras seperti kawat baja. Selaput pembungkus vas deferens disisihkan ke tepi, akan tampak jelas saluran sperma (vas deferens) yang berwarna putih mengkilap bagai mutiara.
4) Selanjutnya dilakukan oklusi vas deferens dengan ligasi + reseksi suatu segmen vas deferens.
5) Penutupan luka operasi (Hanafi, 2004).
2.2.10 Efektifitas Kontap-Pria
1) Angka kegagalan : 0 – 22 % umumnya < 1 %.
2) Kegagalan kontap-pria umumnya disebabkan oleh :
(1). Senggama yang tidak terlindung sebelum semen/ejakulat bebas sama sekali dari spermatozoa.
(2). Rekanalisasi spontan dari vas deferens, umunya terjadi setelah pembentukkan granuloma spermatozoa.
(3). Pemotongan dan oklusi struktur jaringan lain selama operasi.
(4). Jarang yaitu Duplikasi congenital dari vas deferens (terdapat lebih dari 1 vas deferens pada satu sisi) (Hanafi, 2004).
2.2.11 Efek Samping dan Komplikasi Kontap-Pria
Komplikasi minor :
1) Ecchymosis, terjadi pada 2 – 65 %.
Penyebabnya : pecahnya pembuluh darah kecil subkutan sehingga terjadi perembesan darah dibawah kulit. Tidak memerlukan terapi, dan akan hilang sendiri dalam 1 – 2 minggu post-operatif.
2) Pembengkakan (0,8 – 67 % ).
3) Rasa sakit/raasa tidak enak.
4) Terapi butir 2 dan 3 :
(1). Kompres es.
(2). Analgetika/NSAID.
(3). Penunjang skrotum.
2.2.12 Komplikasi Mayor :
1) Hematoma.
(1). Insidens : < 1 %.
(2). Terjadi pembentukkan masa bekuan darah dalam kantung skrotum yang berasal dari pembuluh darah yang pecah.
(3). Pencegahan : hemostasis yang baik selama operasi.
(4). Pengobatan :
Hematoma kecil : kompres es, istirahat bebrapa hari.
Hematoma besar : membuka kembali skrotum, ikat pembuluh darah dan lakukan drainase.
2) Infeksi
(1). Jarang terjadi, hanya kira-kira pada < 2 %.
(2). Infeksi dapat terjadi pada beberapa tempat :
 Insisi.
 Vas deferens.
 Epididymis, menyebabkan epididymitis.
 Testis, menyebabkan orchitis.
3). Sperma granuloma
Granuloma adalah suatu abses non-bakterial, yang terdiri dari spermatozoa, sel-sel epitel dan lymphocyt, dan merupakan suatu respons inflammatoir terhadap spermatozoa yang merembes kedalam jaringan sekitarnya.
(1). Insidens sperma granuloma : 0,1 – 3%.
(2).Penyebab dan timbulnya sperma granuloma : merembes dan bocornya spermatozoa kedalam jaringan sekitarnya, yang disebabkan oleh :
 Absorpsi dari benang jahitan sebelum terbentuk jaringan parut.
 Oklusi yang tidak adekuat dari vas deferens selama operasi.
 Ikatan jahitan terlalu keras sehingga memotong vas deferens.
 Tekanan yang meninggi belakang ujung vas deferens yang dipotong.
 Infeksi vas deferens sehingga timbul nekrosis jaringan.
(3). Diagnosa sperma granuloma :
 Rasa sakit yang tiba-tiba dan pembengkakan pada lokasi operasi setelah 1 - 2 minggu, sedangkan sebelumnya sama sekali a-simptomatik.
(4). Terapi sperma granuloma :
 Umumnya granuloma yang kecil akan menghilang sendiri, atau dapat dilakukan kompres es, istirahat dan pemberian NSAID.
 Bila granuloma besar dan sangat sakit, harus dilakukan eksisi. Hanya saja, eksisi satu granuloma tidak menjamin bahwa tidak akan terjadi suatu granuloma lainnya.
(5). Efek samping sperma granuloma :
 Bisa menyebabkan rekanalisasi vas deferens, karena terbentuk saluran-saluran di dalam granulomanya.
 Granuloma epididymal dapat mencegah keberhasilan reversal/pemulihan-kembali kontap-pria.
4). Komplikasi lain-lain.
(1). Sangat jarang terjadi ( < 1 % ).
 Perlekatan vaskutaneous.
 Hydrocele.
 Fistula vaskutaneous.
(Hanafi, 2004).
2.2.13 Efek Sistemik dari Kontap-Pria
1) Tidak ditemukan efek sistemik dari prosedur kontap-pria
Fungsi kelenjar prostat, seminal vesicles dan kelenjar-kelenjar urethra tidak mengalami perubahan sebagai akibat dari kontap-pria, karena fungsi mereka ditentukan oleh kadar androgen di dalam darah (yang tidak berubah karena kontap-pria).
2) Tidak ditemukan efek kontap-pria terhadap timbulnya penyakit jantung, karsinoma, penyakit paru-paru, saraf, gastro-intestinal dan endokrin.
(Hanafi, 2004).


2.2.14 Efek kontap-Pria pada Fungsi Testis dan Hormon Pria
1) Kontap-pria tidak menimbulkan efek pada fungsi testis dan spermatogenesis berlangsung seperti biasa. Tidak ditemukan perubahan dalam hormon gonadotropin hypopysis (FSH – LH) ysng semuanya masih berada dalam batas normal (Hanafi, 2004).

2.2.15 Efek psikologis dari Kontap-Pria
1) Prosedur kontap-pria hanya menimbulkan efek lokal yaitu oklusi vas deferens, dan tidak akan menimbulkan perubahan fungsi psiko-seksual yang normal.
2) Problem psikologis terjadi pada < 1 -5 % dari akseptor kontap-pria, dengan keluhan rasa takut yang timbul setelah kontap-pria, yang meliputi :
(1). Rasa takut “trauma” tubuh
 Berkurangnya kekuatan fisik tubuh.
 Rasa lelah.
 Insomnia, sakit kepala, depressi.
 Berat badan menurun.
(2). Rasa takut “trauma” seks.
 Libido menurun.
 Dispareunia.
(3). Rasa takut “trauma” keluarga.
 Rasa takut akan kehilangan anak, terutama di daerah/negara dengan mortalitas anak yang tinggi.
 Beberapa peneliti menemukan bahwa pasangan suami istri yang kehilangan anak, menunjukkan kecemasan (anxietas) yang lebih tinggi setelah tindakan kontap-pria.
(4). Rasa takut “trauma” moral.
 Adanya konflik yang berhubungan dengan agama, kebudayaan, dan ketakutan bahwa pria yang telah menjalani kontap-pria akan melakukan perbuatan serong/penyelewengan.
(5). Rasa takut “trauma” kelompok/golongan.
 Pengaruh, kekuasaan atau kedudukan yang menurun dalam kehidupan masyarakat yang menyangkut kelompok keagamaan, sosio-ekonomik atau ethnik (Hanafi, 2004).














Tabel 2.1
Perbandingan Antara Kontrasepsi Mantap Pria dan Wanita

KONTAP-PRIA KONTAP-WANITA
Efektivitas




Komplikasi




penerimaan




Personil






Peralatan






Fasilitas penunjang


Kemungkinan Efek Samping Jangka Panjang  Sangat efektif, tetapi angka kejadian rekanalisasi spontan dan kehamilan sedikit lebih tinggi.
 Efektif 6 – 10 minggu setelah operasi.
 Hampir tidak ada resiko trauma internal.
 Infeksi serius sangat rendah.

 Tidak ada kematian yang berhubungan dengan anestesi.
 Bekas luka parut hampir tidak terlihat.

 Reversibilitas sedikit lebih tinggi.
 Biaya lebih tinggi.
 Dapat dikerjakan sendiri, dengan atau tanpa asisten.
 Dapat dikerjakan oleh paramedis yang terlatih.


 Waktu operasi lebih singkat. ( ½ waktu operasi kontap-wanita)
 Hanya memerlukan peralatan bedah sederhana/standard.
 Dapat dikerjakan dengan anestesi lokal.

 Tidak diperlukan fasilitas penunjang bila terjadi komplikasi.


 Tidak ada.  Sangat efektif, angka kegagalan sedikit lebih rendah.
 Segera efektif post operatif.


 Resiko trauma internal sedikit lebih tinggi.
 Kemungkinan infeksi serius sedikit lebih tinggi.
 Sedikit sekali kematian yang berhubungan dengan anestesi.
 Bekas luka parut kecil tetapi masih dapat terlihat.

 Reversibilitas sedikit lebih rendah.
 Biaya lebih tinggi.
 Perlu suatu tim
 Lebih sukar dipelajari dan dikerjakan para medis.
 Waktu operasi lebih lama.


 Mini-lap hanya memerlukan peralatan bedah standard.
 Untuk endoskopi diperlukan peralatan yang mahal, rumit, perawatan yang baik.
 Perlu sedasi sistemik dan anestesi lokal.
 Diperlukan fasilitas penunjang untuk tindakan laparotomi bila terjadi komplikasi serius.

 Resiko kehamilan ektopik.
(Hanafi, 2004).






2.2.16 Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang dilakukan dengan jadwal sebagai berikut :
1) Seminggu sampai dua minggu setelah pembedahan.
Lakukanlah anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
 Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, adanya demam, rasa nyeri , perdarahan dari bekas operasi, atau alat kelamin.
 Pemriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan luka, dan perawatan sebagaimana mestinya.
5) Sebulan setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
 Anamnesis yang meliputi keadaan kesehatan umum, dan senggama.
 Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan fisik umum dan alat genetalia.
6) Tiga bulan dan setahun setelah operasi
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan sebagai berikut :
 Anamnesis meliputi keadaan kesehatan umum, senggama, sikap terhadap kontrasepsi mantap, dan keadaan kejiwaan si akseptor.
 Pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaan kesehatan umum.
 Lakukan analisa sperma setelah 3 bulan pascavasektomi atau 10 – 12 kali ejakulasi untuk menilai hasil pembedahan.
. (Saifuddin, 2003).




2.3 Proses perubahan Perilaku
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku

2.3.1 Faktor Predisposisi (predisposing faktors)
Faktor-faktor yang dapat mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku pada diri seseorang atau masyarakat adalah pengetahuan dan sikap seseorang atau masyarakat tersebut terhadap apa yang akan dilakukan.

2.3.2 Faktor Pemungkin (enabling faktors)
Faktor pemungkin atau pendukung perilaku adalah fasilitas, sarana, atau prasarana yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.

2.3.3 Faktor Penguat (reinforcing faktors)
Pengetahuan, sikap dan fasilitas yang tersedia kadang-kadang belum menjamin terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.
(Notoatmodjo, 2005)








2.4 Kerangka Teori
Skema 2.1
Kerangka Teori





-----------------------------
- Inteligensi
- Suku Bangsa
- Lingkungan
- Agama
---------------------------------------

--------------------------------------------
Faktor Pemungkin
- Sarana Kesehatan
- Fasilitas
- Jarak Tempuh
--------------------------------------------

--------------------------------------------
Faktor Penguat
- Usia perkawinan
--------------------------------------------



Ket : = Di teliti
------ = Tidak di teliti.

Sumber : Lawrence Green dalam buku Notoadmodjo, 2005, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta.



BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep
Dari uraian di atas, kerangka konsep yang di pakai dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Skema 3.1
Kerangka Konsep

.
Variabel Independent Variabel Dependent















3.2 Defenisi Operasional

Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Skala Ukur Hasil Ukur

Pengetahuan Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh responden Tentang Metode Operasi Pria (MOP) Kuesioner Wawancara Ordinal 1. Baik : jika benar menjawab pertanyaan > 5
2. Kurang Baik : jika salah menjawab pertanyaan ≤5


Sikap Suatu pola tingkah laku yang dimiliki oleh responden Terhadap Metode Operasi Pria (MOP). Skala Guttmen Wawancara Ordinal 1. Baik : jika benar menjawab pertanyaan > 5
2. Kurang Baik : jika salah menjawab pertanyaan ≤ 5

Umur Usia responden berdasarkan pengakuan responden tentang ketidakmauan pria dalam ber-KB Metode Operasi Pria (MOP). Kuesioner Wawancara Ordinal 1. Muda: jika umur responden < 20 tahun
2.Sedang : jika umur responden ≤ 20-35 tahun
3. Tua : jika umur responden > 35 tahun

Jumlah anak dalam Keluarga Banyak anak berdasarkan pengakuan responden tentang ketidakmauan pria dalam ber-KB Metode Operasi Pria (MOP). Kuesioner Wawancara Ordinal 1.Banyak : jika jumlah anak dalam keluarga > 2 orang
2. Cukup : jika jumlah anak dalam keluarga ≤ 2 orang


KB MOP KB MOP adalah prosedur untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vas deferens sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi berdasarkan data puskesmas Tembilahan Hulu. Kuesioner Wawancara Ordinal - Menggunakan KB MOP
- Tidak menggunakan KB MOP

3.3 Hipotesis (Jika Ada)
3.3.1 Ha = Jika ada hubungan Pengetahuan pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Tembilahan Hulu.
3.3.2 Ha = Jika ada hubungan Sikap pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Tembilahan Hulu.
3.3.3 Ha = Jika ada hubungan Umur pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Tembilahan Hulu.
3.3.4 Ha = Jika ada hubungan Jumlah anak dalam keluarga pria dalam ber-KB MOP di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Tembilahan Hulu.


BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur beberapa variabel yang di teliti.

4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala nilai test/ peristiwa-peristiwa sebagai sumber daya dimiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nawawi, 2000).
Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh bapak-bapak di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Kabupaten Inhil Tahun 2010 dengan jumlah 1729 orang.
4.2.2 Sample.
Sampel adalah bagian dari jumlah karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Mustafa, 2008).
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik random sampling yaitu sampel diambil secara acak dan setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel penelitian.


Adapun jumlah sampel yang akan diambil adalah menggunakan rumus:
(Notoatmodjo, 2003).

Keterangan :
N = Besar populasi
n = Besar sample
d = Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0.1)
Diketahui jumlah populasi adalah sebanyak 1729 orang (N=1729) maka diketahui besarnya sampel yaitu :
=
= 100 orang (pembulatan ke atas).
Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah sebagian dari bapak-bapak Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Kabupaten Inhil Tahun 2010 sebanyak 100 orang.



4.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Kelurahan Tembilahan Hulu Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu, untuk penelitian ini adalah bulan juni 2010.

4.4 Teknik Pengumpulan Data
4.4.1 Data Primer
Data yang didapatkan langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner melalui wawancara dengan responden yang terpilih sebagai sampel.
4.4.2 Data Sekunder
Data yang diperoleh dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Puskesmas Tembilahan Hulu Kab. Indragiri Hilir, serta data yang di ambil adalah jumlah pasangan usia subur yang memakai alat kontrasepsi MOP pada tahun 2009.

4. 5 Teknik Pengolahan Data
4.5.1 Pemeriksaan data ( Editing )
Dilakukan untuk memeriksa kembali data yang telah diperoleh apakah jawaban sudah lengkap dengan jelas, sehingga dapat dihasilkan data yang telah akurat untuk pengolahan data selanjutnya.
4.5.2 Pengkodean ( Coding )
Coding merupakan kegiatan pemberian kode terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori kegiatan ini merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk bilangan.
4.5.3 Memasukkan data (Entry data )
Memindahkan jawaban kedalam master table.

4.5.4 Pembersihan ( Cleaning )
Setelah semua jawaban dan data dibuat dimaster tabel kemudian di distribusikan ke tabel distribusi frekuensi.

4.6 Teknik analisa data
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan komputer menggunakan program SPSS versi 11,0 dan di analisa secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi variabel penelitian (analisa univariat). Untuk mencari hubungan dua variabel (analisa bivariat) digunakan tabel silang ( eha square ) dengan tingkat kepercayaan 95 % dan a = 5 % dan tingkat kemaknaan p < 0, 05.

pengertian BK

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

1. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.hal 19. Rochman Hatawidjaja, 1987 : 31
“Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendidri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Dengan demikian, dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan dapat memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial”.

.
2. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekoklah. Hal 20. Moh. Surya, 1988 : 12
“Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang di bimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya”.


3. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekoklah. Hal 20. Prayitno, 1983 : dan 1987 :35
“Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian itu mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya dilaksanakan oleh pribadi mandiri, yaitu : (a) mengenal diri sendiri dan lingkungannya, (b) menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (c) mengambil keputusan, (d) mengarahkan diri, (e) mewujudkan diri”.

4. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Hal 94. Tiedeman dalam Bernard & Fullmer. 1969.
“Bimbingan adalah membantu seseorang agar menjadi berguna tidak sekedar mengikuti kegiatan yang berguna”

5. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Hal 95. Jones, Staffre & Stewart, 1970.
“Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam membuat pilihan-pilihan dan penyesuaian-penyesuaian yang bijaksana. Bantuan itu berdasarkan atas prisip demokrasi yang merupakan tugas dan hak setiap individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri sejauh tidak mencampuri hak orang lain. Kemampuan membuat pilihan seperti itu tidak di turunkan (diwarisi), tetap harus di kembangkan”.


Pengertian Konseling Menurut Para Ahli

1. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Hal 21. Prayitno, 1983 : 3
“Konseling adalah pertemuan empat mata antara klien dan konselor yang berisi usaha yang laras, unik dan human (manusiawi), yang dilakukan dalam suasana keahlian yang didasarkan atas norma-norma yang berlaku”.

2. Pengantar Pelaksana Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Hal 21. Natawidjaja, 1987 : 32
“Konseling adalah satu jenis layanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan. Konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu, di mana yang seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang”.

3. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Hal 100. Pepinsky & Pepinsky, dalam Shertzer & Stone, 1974.
“Konseling adalah interaksi yang (a) terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dank lien, (b) terjadi dalam suasana yang profesional, (c) dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien”.

4. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Hal 100. Smith, dalam Sertzer & Stone, 1974.
“Konseling adalah suatu proses di mana konselor membantu konseli membuat interpretasi-interpretasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya”.

5. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Hal 100. McDaniel, 1956.
Konseling adalah suatu rangkaian pertemuan lansung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungannya”.

penerapan sistem pendidikan

PENERAPAN DAN SITEM PENGAJARAN

Dalam lingkup yang lebih khusus, terutama dalam konteks kelas, psikologi belajar atau psikologi pembelajaran banyak memusatkan perhatiannya pada psikologi belajar dan pembelajaran. Fokusnya adalah aspek-aspek psikologis dalam aktivitas belajar. Sehingga dapat diciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif. Upaya tersebut, dapat dilakukan dengan melakukan wujud prilaku pembelajaran yang efektif pada guru, dan mewujudkan prilaku belajar pada siswa yang terkait dengan proses pembelajaran.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa psikologi belajar mempunyai peranan besar dalam proses pembelajaran khususnya bagi kita sebagai calon guru pendidikan agama islam. Maka, dalam makalah inipun mengangkat masalah metode penelitian psikologi belajar dan manfaat mempelajari psikologi belajar yang berhubungan langsung dengan pensdidikan agama islam.

MANFAAT PENERAPAN DAN PENGAJARAN
Bagi seorang guru, yang bertugas adalah sebagai pengajar, sangat penting memahami psikologi belajar. Kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran pendidikan agama islam, sarat dengan muatan psikologis, mengabaikan aspek-aspek psikologis dalam proses belajar akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Beberapa peran penting psikologi belajar dalam proses pembelajaran adalah :

konsep jiwa kependidikan

BAB I
ILMU JIWA PENDIDIKAN

Pendidikan tentang jiwa psikolog dan psikolog pendidikan yang terpendam dalam diri manusia yang akhirnya dapat melahirkan pola berperilaku, gerak dan lain sebagainya. Dengan demikian pergerakan, pertumbuhan dan perkembangan semua itu menjadi petunjuk gejala adanya jiwa pada manusia. Disini para filosof membagi jiwa menjadi
1. Daya Vegetatif, bersifat tumbuh, berkembang sebagaimana tumbuh-tumbuhan ini disebut “nafs on nabati”
2. Daya Sensoris, ini bagi pemilik penginderaan, berpindah sebagaimana perilaku hewan disebut “nafs al hayawany”
3. Daya Rasional, yang khusus pemilik yang bersifat berfikir, berbuat, berkehendak sebagaimana khusus nampak pada jiwa manusia, dan disebut “nafs al insaniyah”
4. Daya ruh, bersifat taat, patuh, tunduk, ini menggambarkan sosok malaikat.

Menurut Kejiwaan Manusia
Menurut kebanyakan filosof, struktur jiwa manusia terdiri dari :
1. Jiwa Vegetatif : bagian terbawah
2. Jiwa Sensitif : bagian menengah
3. Jiwa Rasional : bagian tertinggi

Pembagian Ilmu Jiwa
1. Dari segi sasaran / obyeknya, ilmu jiwa dapat dibedakan menjadi dua :
a. Ilmu Jiwa Umum : yaitu obyek studynya adalah manusia dewasa seutuhnya, normal dan beradab.
b. Ilmu Jiwa Khusus : yaitu obyek studynya adalah bagian-bagian tertentu dari gejala-gejala jiwa.
2. Dari segi kegunaan dapat dibedakan antara ilmu jiwa teoritis, praktis.
a. Teoritis dipergunakan untuk mengembangkan pengetahuan ilmu kejiwaan.
b. Praktis dipergunakan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensinya bidang tertentu dari aspek bidang kehidupan manusia.

Pengertian Psikologi Pendidikan.
Psikologi pendidikan adalah : suatu stadi kejiwaan dari bidang pendidikan/studi dari bidang pendidikan yang akhirnya diarahkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pendidikan dan pengajaran.






BAB II
PSIKOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI DISIPLIN ILMU

Psikologi pendidikan, bisa dipahami sebagai “study tentang proses pendidikan dari sudut tinjauan psikologi”.
Apakah psikologi pendidikan sudah merupakan disiplin ilmu yang tersendiri? Hal ini dapat lihat apakah psikologi pendidikan sudah memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Harus mempunyai obyek
2. Harus mempunyai metode khusus
3. Harus mempunyai ruang lingkup studi yang jelas
4. Harus mempunyai nilai guna dan manfaat

Obyek Psikologi Pendidikan
1. Obyek material, yaitu bersifat umum, yang juga menjadi obyek kebersamaan ilmu-ilmu umum lainnya yang sejenis, (obyek dari ilmu induknya).
2. Obyek formal yaitu bersifat khusus yang hanya menjadi sasaran studi tersendiri dari ilmu yang bersangkutan dan berbeda dari obyek-obyek ilmu lainnya, ini keduanya merupakan penghayatan tingkah laku manusia.

Ruang lingkup Psikologi Pendidikan
Ialah meliputi :
1. Masalah perkembangan dan pertumbuhan individu
2. Masalah belajar mengajar
3. Masalah pengukuran dan penelitian
4. Masalah bimbingan dan penyuluhan



Kegunaan Psikologi Pendidikan

Secara praktis Psikologi pendidikan berguna pada mereka yang terlibat dalam proses pendidikan dan pengajar.
a. bagi perencana pendidikan
b. bagi para guru
c. bagi para orang tua



BAB III
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Antara kata pertumbuhan dan perkembangan keduanya mempunyai arti yang berbeda karena suatu yang tumbuh adalah suatu yang bersifat material dan kuantitatif sedangkan yang berkembang adalah suatu yang bersifat fungsional dan kuantitatif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.
Ada garis besar yang merupakan faktor terpengaruhnya pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak.
1. Faktor Intern, faktor yang muncul dari dalam diri anak / dari keturunan.
2. Faktor Ekstern, faktor yang muncul dari luar diri anak / dari pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan.
Dan ada juga kedua faktor tadi di dalam hal ini ada tiga teori :
1. Teori Rativisme, berpendapat bahwa sejak lahir anak telah memiliki sifat-sifat / dasar-dasar tertentu.
2. Teori Empirisme, berpendapat bahwa sejak lahir anak tidak memiliki sifat-sifat / dasar-dasar tertntu semata-mata ditentukan faktor dari luar.
3. Teori Konvergensi, berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak itu ditentukan sebagai akibat interaksi.

Prinsip-prinsip Perkembangan.
1. Prinsip kesatuan organis
2. Prinsip tempo dan irama berkembang
3. Prinsip pola umum perkembangan yang sama
4. Prinsip Konvergensi
5. Prinsip Kematangan
6. Prinsip Fungsional

Membina pertumbuhan dan perkembangan anak
Syarat-syarat pokok dalam pembinaan pertumbuhan dan perkembangan.
1. Adanya Pembina yang bertanggung jawab
2. Tersedianya alat-alat lengkap
3. Adanya keteraturan artinya : pembinaan harus diberikan secara terus-menerus
4. Diperlukan adanya perlindungan
5. Diperlukan adanya kesabaran dan ketekunan

BAB IV
FAKTOR HEREDITAS DAN PRINSIPNYA

Yang disebut faktor hereditas adalah : sifat-sifat / ciri-ciri yang diperoleh oleh seseorang anak atas dasar keturunan atau pewarisan dari generasi ke generasi melalui sel benih.

Prinsipnya atau Hukum Hereditas
Dapat berlangsung menurut prinsip-prinsip / hokum-hukum tertentu yaitu :
1. Prinsip Reproduksi, melalui prinsip reproduksi orang tua bisa mewariskan sel benihnya kepada generasinya.
2. Prinsip Konformitasi, bahwa setiap jenis makhluk menurunkan jenisnya sendiri.
3. Prinsip Variasi, selain mewarisi ciri-ciri yang umum yang sama juga mewariskan sifat berbeda lainnya.
4. Prinsip Regresi Fillial, menunjukkan sifat menonjol kedua-duanya misal : meskipun orang tuanya cerdas, generasinya akan sedang-sedang tak secerdas orang tuanya.










BAB V
PERLENGKAPAN DASAR DAN PERLENGKAPAN AJAR

Perlengkapan dasar ialah perlengkapan-perlengkapan yang ada dan dimiliki oleh seseorang atas dasar bawaan / keturunan.
Sedangkan perlengkapan ajar adalah perlngkapan-perlengkapan yang berupa berbagai macam kemampuan yang diperoleh anak sebagai akibat belajar dan pengalaman-pengalaman lain.























BAB VI
PROBLEM PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM PENDIDIKAN

Perbedaan individual adalah sebagai apresiasi dari hukum variasi dalam hereditas.
Sesuai dengan hukum regresi filial dapat dibedakan bersifat demikian.
1. Secara kasar : hanya bisa digolongkan antara dua kategori misal : tinggi rendah
2. Secara distributif : penyebaran perbedaan individual itu menunjukkan “kurva distributif normal” bahwa yang paling banyak adalah sedang-sedang dan semakin ke ujung semakin sedikit jumlahnya.


















BAB VII
PENGERTIAN BELAJAR DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Belajar mempunyai banyak arti sangat luas. Bisa dikatakan bahwa belajar adalah meliputi setiap pengalaman yang menimbulkan perubahan dalam pengetahuan.
Belajar dapat didefinisikan sebagai “berubahnya kemampuan seseorang untuk melihat, berfikir, merasakan, melaksanakan sesuatu dan lain-lain”.

Faktor yang mempengaruhi belajar
1. Faktor-faktor non sosial
2. Faktor-faktor sosial dalam belajar
3. Faktor-faktor fisiologis dalam belajar
4. Faktor-faktor psikologis dalam belajar















BAB VIII
TEORI-TEORI BELAJAR ILMU JIWA PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI DISIPLIN ILMU

Disini banyak aliran psikologi dan psikologi pendidikan.
1. Psikologi yang bersifat spekulatif
2. Psikologi behavioristik
3. Psikologi Kognitif
4. Psikologi humanistik
Dan mengenai teori belajar ini tak lain karena para ahli tidak puas pendapat, para ahli sebelumnya, dari itu timbulah teori belajar yang bersifat kognitif .
Psikologi kognitif mulai berkembang dari lahirnya teori gestalt peletak dasar teori gestatif adalah Wertheimer, yang meneliti tentang pengalaman dan problem solving.
Menurut psikologi gestalt ada beberapa sifat khusus belajar dengan insight (pengamatan/pemahaman mendadak antara hubungan terhadap permasalahan) yaitu:
1. Insight itu tergantung kepada kemampuan dasar yang berbeda-beda antar anak
2. Insight itu tergantung kepada pengalaman yang relevan
3. Insight itu tergantung pengaturan secara eksperimental
4. Insight itu didahului oleh sesuatu periode yang berbeda-beda
5. Insight itu dapat diulangi
6. Insight itu yang pernah didapatkan, dapat dipakai untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.




BAB IX
BEBERAPA BENTUK / JENIS BELAJAR

Bentuk-bentuk belajar antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :
1. Bentuk belajar menurut spikis
a. Belajar dinamik yaitu artinya menghendaki sesuatu secara wajar didalam belajar
b. Belajar efektif, cirinya belajar menghayati nilai-nilai dari obyek yang dihadapi melalui alam perasaan
c. Belajar kognitif, cirinya dalam mempergunakan bentuk-bentuk prestasi yang mewakili obyek-obyek yang dihadapi
2. Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari
a. Belajar teoritis
b. Belajar teknis
c. Belajar bermasyarakat
d. Belajar estetis, cenderung bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan diberbagai bidang kesenian.
3. Bentuk- bentuk belajar yang tidak begitu disadari
a. Belajar insidental : ini cirinya langsung bila orang mempelajari sesuatu dengan tujuan tertentu tetapi di samping itu juga belajar hal-hal lain yang sebenarnya tidak menjadi sasaran.
b. Belajar tersembunyi
c. Belajar mencoba-coba




BAB X
MASALAH MOTIVASI BELAJAR

Motif, motivasi dan motivasi belajar.
Motif adalah : daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu
Motivasi ialah motif yang sudah menjadi aktif pada saat-saat tertentu, motivasi belajar adalah dorongan yang mana dapat memberikan rasa belajar dengan tekun kepada peserta didik.
Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan sesuatu kebutuhan. Kaitan itu tertampung dalam istilah “lingkungan motivasi”.






BAB XI
TRANSFER BELAJAR

Transfer belajar adalah : pemindahan / pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidangstudi yang satu ke bidang studi yang lain, atau kehidupan sehari-hari di luar lingkungan sekolah.
Beberapa pandangan tentang transfer belajar, dalam hal ini terdapat beberapa teori antara lain :
1. Teori disiplin formal
Pandangan ini bertitik tolak pada pandangan aliran psikologis, daya tentang psike/kejiwaan manusia, psike itu dipandang sebagai kumpulan dari sejumlah bagian / daya-daya yang berdiri sendiri. Seperti daya berfikir, daya mengingat, daya kemauan, daya merasa, dan lain-lain.
2. Teori elemen identik
Suatu unsur di bidang studi yang satu ke unsur yang sama antara bidang-bidang study.
3. Teori generalisasi
Berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok.

Faktor-faktor yang berperan dalam transfer belajar.
1. Proses belajar
2. Hasil belajar
3. Bahan / materi bidang-bidang studi
4. Faktor-faktor subyektifitas di pihak siswa
5. Sikap dan usaha guru



BAB XII
PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING)

Setiap makhluk hidup pasti mempunyai masalah. Adapun beberapa cara yang harus ditempuh dalam problem solving mulai dari sederhana sampai yang paling rumit adalah :
1. Kelakuan yang tidak dipelajari (instink) dan pembiasaan
2. Trial and error yang membudaya
3. Dengan insight (pemahaman)
4. Vicarious, behavior (dalam hati), dan
5. Cara ilmiah
Kalau pada binatang pemecahan masalah dapat menggunakan cara-cara (1), (2), dan (3) sedangkan pada manusia menggunakan kelima cara tadi, akan tetapi cara (1), dan (2) sering dipergunakan pada tahap kanak-kanak.












EVALUASI

Manfaat buku ini, mempermudah pendidik dalam melangsungkan kegiatan belajar mengajar dengan mengetahui garis-garis besar ilmu jiwa pendidikan sehingga target / tujuan pendidikan secara praktis dapat dijangkau.
Kelemahan buku, karena namanya buku dan hanya buku yang berisikan gambaran-gambaran tertentu didalam pendidikan, pasti masih trdapat kelemahan antara lain, buku ini cuma teori tidak langsung berbentuk praktis, kemudian di dalam mempelajari ilmu jiwa pendidikan terdapat banyak dan melebar berbagai teori dan teori sehingga menurut pendapat saya pribadi, dengan menaati, menghafalkan teori-teori ini kapan terlaksananya kegiatan belajar mengajar, belum pula memahami kemudian penerapan.


Pemilik Resensi : Shokif Furidho
NIM : D02206022
Fakultas/Jurusan : Tarbiyah / PBD
Semester : II










KLASIFIKASI

A. Pengertian
Klasifikasi adalah pengelompokan barang yang sama dan memisahkan dari benda menurut spesianya.
Dari sini begitu banyak pembahasan tentang klasifikasi itu sendiri disadari atau tidak pengklsifikasi sesuatu kerap kita hadapi pada kehidupan sehari-hari. Para ilmuwanpun membuat klasifikasi ilmu menjadi tiga golongan ilmu sosial, ilmu kealaman, ilmu humaniora.
Tujuan ini tidak lain supaya kita dapat mudah mengetahui tanda-tanda itu.
Untuk membuat klasifikasi harus menempuh dua macam cara dan ini merupakan syaratnya.
a. pembagian
b. pengelolaan

B. Pembagian
Adalah pembagian suatu genera kepada spesia yang dicakupnya. Sedang untuk mengetahui pembagian genera kepada spesia dengan benar maka dalam pembagian perlu / bahkan wajib memperhatikan patokan berikut :
a. pembagian harus di dasarkan atas sifat persamaan yang ada pada genera secara menyeluruh, sedang spesianya merupakan perubahan tertentu dari sifat persamaan itu. Misalnya, kita hendak membagi macam agama, maka kita harus berdasarkan perubahan tertentu dari sifat genera itu sendiri.
b. Setiap pembagian harus berlandaskan satu dasar saja, karena pembagian yang dilandaskan atas lebih dari satu dasar akan menimbulkan spesia simpang siur.
Contohnya : pembagian manusia menjadi ; manusia berkulit putih, berkulit hitam. Manusia Afrika, Manusia Asia.

c. Pembagian harus lengkap. Yakni, harus menyebut keseluruhan spesia yang dicakup oleh suatu genera, Ini memang sulit karena tidak selamanya mengetahui keseluruhan spesia dan generanya. Hal ini sangat tergantung terhadap kebendaharaan pengetahuan kita atas kelompok barang-barang.
Pembagian dikotomi, karena mungkin kita akan menghadapi pembagian yang berbeda dengan model di atas. Maka kita menggunakan pembagian logika jenis lain yaitu pembagian dekotomi adalah: pembagian dari suatu genera kepada spesia yang dicakupnya, dengan mengelompokkan menjadi 2 golongan yang di bedakan atas ada dan tidak adanya.
Dalam bahasa latin (dikotomi) mempunyai arti pembagian secara dua-dua dalam bahasa arab disebut sunaiyyal.

C. Penggolongan
Penggolongan mempunyai lebih spesifik daripada pembagian. Jadi, antara pembagian dan penggolongan mempunyai arti yang bertolak belakang. Karena pembagian bergerak dari atas ke bawah sedang penggolongan sebaliknya.
Pengelompokan barang-barang atas golongan tertentu berdasarkan atribut dan perbedaannya, tentu barang-barang yang mempunyai persamaan tertentu dikelompokkan ke dalam golongan yang sama.